Nahdlatul Ulama Rumah Bukti Menguji Bakti

Fathurrahman Jr. (Dosen Universitas Islam Negeri Mataram)

“Dimana ada BUKTI, disitu ada BAKTI. ~TGH. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin (Datoq Bagu)”

Kalimat di atas bukan hanya sekedar slogan semata. Namun sebuah spirit kuat yang wajib menjadi pegangan untuk jam’iyyah dan jamaah Nahdlatul Ulama dalam merefleksikan diri atas apa yang telah dibuktikan dalam dirinya untuk Nahdlatul Ulama. Memberikan bukti atas bakti untuk jam’iyyah Nahdlatul Ulama merupakan bukti-bakti kita kepada Islam dan Indonesia, bahkan Dunia-Akhirat. Ulama warasatul ambiya’merupakan alasan komplit untuk meneruskan ajaran Islam rahmatan lil alamin yang tentunya tidak jauh dari spirit kebangsaan Indonesia “hubbul wathan minal iman”. Mengapa dalam sebuah wawancara dengan Mba Allisa Wahid Putri dari KH. Abdurrahman Wahid bahwa ia menceritakan tentang Gus Dur yang memposisikan kepentingan keluarganya pada posisi ke 4 setelah kepentingan pertama untuk Islam, kedua untuk Indonesia, ketiga untuk Nahdlatul Ulama, baru keempat keluarga. Karena beliau tahu bahwa urusan-urusan publik, khususnya di Nahdlatul Ulama adalah amanah kenabian.

Pengabdian di Nahdlatul Ulama bukan hanya persoalan menjalankan tugas organisasi, tetapi juga wujud keterpanggilan spiritual dan moral. NU sejak awal berdiri membawa misi besar: menjaga agama, merawat tradisi, dan membela tanah air. Karena itu, setiap bentuk pengabdian di NU memiliki nilai yang jauh melampaui sekadar aktivitas administratif.

Pengabdian dalam NU juga berarti melanjutkan perjuangan para ulama terdahulu. Para kiai dan nyai telah memberi teladan bagaimana ilmu, amal, dan akhlak menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat. Mengabdikan diri di NU berarti ikut menjaga warisan itu agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. Salah satu kekuatan NU adalah kemampuan menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Seorang guru ngaji kampung, pengasuh pesantren, hingga akademisi modern, semuanya punya tempat dalam gerakan NU. Pengabdian di NU mengajarkan bahwa kekuatan umat tidak dibangun oleh satu sosok, tetapi oleh sinergi kolektif.

Kemudian pada era digital saat ini, pengabdian di NU menuntut bentuk baru. Tidak cukup hanya mengaji di surau, tetapi juga menjadi penjaga ruang publik digital dari hoaks, ujaran kebencian, dan paham-paham ekstrem. Generasi muda NU kini memikul tanggung jawab besar untuk menyebarkan Islam ramah melalui teknologi. Mengabdikan diri di NU juga berarti siap belajar sepanjang hayat. NU tidak hanya mengajarkan kitab kuning dan tradisi pesantren, tetapi juga membuka ruang bagi inovasi dan pemikiran progresif. Pengabdian berbasis ilmu menjadi fondasi penting agar NU tetap menjadi organisasi yang adaptif dan solutif bagi umat.

Pada akhirnya, pengabdian di NU adalah investasi amal jariyah. Apa pun peran yang dilakukan besar atau kecil, terlihat atau tidak semuanya bermuara pada satu tujuan: menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan negeri. Nilai-nilai seperti keikhlasan, tasamuh, tawasuth, dan tawazun menjadi kompas moral dalam setiap langkah.

Kalau kita menilik pada pesan Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo oleh Kiai Achmad Siddiq saat terpilih menjadi Rais Aam PBNU yakni NU adalah ormas yang besar, beragam warna karakter, corak budaya, oleh karenanya tidak melulu terfokus pada menegakkan ukhuwah Islamiyah, melainkan berfikir juga tentang ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah Basyariyah. (read. Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama hal. 11) Artinya urusan warna partai, warna OKP, warna pesantren, dan lainnya harus melebur menjadi semangat ke-NU an. Pengabdian di NU tampak pada keberpihakan kepada masyarakat kecil. NU hadir melalui lembaga pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial yang bertujuan mengangkat martabat umat. Pengabdian tidak selalu berupa ceramah atau kajian, tetapi juga tindakan nyata seperti membantu petani, mendampingi UMKM, atau menguatkan komunitas miskin.

Pengabdian ini tidak harus sempurna, tetapi harus tulus. NU selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin berbuat kebaikan. Selama niatnya benar dan jalannya lurus, setiap langkah kecil pengabdian akan menjadi bagian dari perjuangan besar para ulama dalam menjaga agama dan membangun peradaban yang lebih damai dan bermartabat.

“Jangan sekali-kali mencari kebesaran di NU, tapi besarkanlah NU. Maka, anda niscaya menjadi besar. Sebuah kesempurnaan ada pada aksi dan bukti, bukan pada wacana dan janji.” (KH. Abdul Wahab Hasbullah)

Editor: Lukman Nulhakim

Penyunting Naskah: Lalu Abdurrahman Wahid

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *