Penulis: Mohammad Baihaqi Al Kawi, Penulis dan Aktivis Nu
Sulit membayangkan kemunculan organisasi sosial-keagaamaan baru sebesar Nahdlatul Ulama (NU) di abad 21 ini. Kompleksitas abad ini berhasil memecah kehidupan dalam dua dimensi; dimensi virtual dan dimensi factual. Keduanya bertaut satu sama lain. Virtualitas mempengaruhi faktualitas, juga sebaliknya.
Menyongsong abad kedua ini, NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia telah teruji secara kultural-politik berhasil tegak hingga seratus tahun. Perjalanan Panjang itu tak mudah; penuh kelokan dan tanjakan. Tapi semua itu bisa diatasi berkat keteguhan para muassis dan jam’iah yang bergulat dari pinggir.
Jam’iah yang bergulat di pinggir berupaya bekerja secara optimal untuk terus bertahan hidup, salah satunya dengan menggarap lahannya untuk kemandirian pangan. Tapi para petani punya dimensi spritualitas yang bekerja sebagai suluh; menerangi kompleksitas kehidupan. Tapi di sisi lain, sisi spritualitas tak sepenuhnya dapat dipisahkan dari dimensi duniawi.
Karena keterhubungan itulah, NU sebagai jembatan yang menautkan antara spritualitas dengan kompleksitas duniawi. Dengan kata lain, ekonomi warga berbasis spritualitas dan spritualitas tak bisa berdiri sendiri tanpa adanya kemandirian ekonomi. NU Hadir sebagai penghubung keduanya.
NU dapat mengantarkan kaum petani sebagai bagian penting dari segmen jami’iah NU, hidup secara layak sehingga dapat menjalankan perintah agama secara nyaman da tak lepas dari kultur setempat. Bilamana ditanya, siapa sebetulnya jam’ah NU, maka jawabannya adalah para petani yang bekerja banting tulang di bawah terik matahari.
Ekoteologi Petani Menyonsong Abad Kedua
Kultur agraris memiliki keterhubungan kuat dengan kehadiran NU. Para petani yang sangat menghormati ulama, bahkan menggantungkan kehidupan sosialnya di tangan para ulama. Ulama dalam kultur agraris Adalah puncak yang mempengaruhi struktur sosial. Bagi petani, apa yang dikatakan ulama adalah amanat yang tak boleh diabaikan.
NU bagi petani adalah ruang spiritual yang tak terpisah dari martabat dirinya. Begitu NU misalnya ‘diganggu’, mereka lah yang pertama kali tegak membela NU yang telah mandarah daging dalam hidupnya. Itu semua muncul ketika ulama-ulama NU menjadikan petani sebagai basis perjuangan.
Tanpa kaum petani yang hidup dalam kultur agraris, kultur yang dikristalisasi NU hanya bekerja secara formal. Ulama dan kaum petani lah yang menjadi tulang punggung dari jam’iah NU. Para muassis NU tentu menyadari ini sejak awal. Itu sebabnya para ulama yang tergabung dalam NU betul-betul berjuang untuk kepentingan kaum petani.
Di Lombok misalnya, Datok Lopan sebagai ikon ekoteologi telah berhassil merancang bangun system irigasi yang digunakan oleh petani hingga hari ini. Upaya konkrit semacam itu ternyata mampu menyedot simpati jam’iah. Aksi nyata semaacam itu tak sekadar omon-omon, melainkan bergerak di tengah masyarakat secara intens.
Apa yang dilakukan Datok Lopan sebagai contoh yang petut ditiru di tengah munculnya narasi ekoteologi yang telah mandarah dagiong dalam tubuh dan batin kaum petani. Bagi petani, ekoteologi bukan lah sekadar narasi, bukan omon-omon, bukan gagasan, melainkan sebuah pengetahuan yang berbasis kearfian yang telah diturunkan secara turun temurun.
Kaum petani telah berhasil menaut-padankan nilai-nilai keagamaan-spiritual lewat aktivitas bertani sekaligus sebagai bagian dari komunitas keagamaan. Kehidupan petani telah menekankan relasi timbal balik yang harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.
Sebagai bagian dari jam’iah NU, para petani percaya, bahwa aktivitas bertani bukan sekadar untuk pentingan ekonomi, melainkan ibadah untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mencapai kedaulatan pangan. Hal inilah yang ditekankana sejak lama oleh para muassis NU.
Dari itu, di abad kedua NU, ekoteologi petani mesti berkelanjutan dan dipertahankan sebagai basis pokok dari gerakan NU menuju kemandirian ekonomi, pelestarian lingkungan dan spritualitas yang penuh kasih terhadap sesama manusia. Kaum petani sebagai detak nadi yang menghidupkan NU sejak lama.
Dari kaum petani kita belajar tentang koteologi yang menekankan bahwa manusia, binatang, tanah, tanaman, pohon adalah kesatuan ekologis yang saling mengisi satu sama lain. Praktik pertanian dianggap sebagai bentuk tanggung jawab manusia sebagai pengelola bumi. Girrah seorang petani mengajarkan kita bagaimana seharusnya spritualitas, ekonomi dan alam menjadi kesatuan yang tak bisa dipisahkan.














Leave a Reply