Dari Tradisi Ke Transformasi: Menyongsong Abad Kedua Nu Dan Agenda Rejuvansi Pemuda NTB

Penulis: Daud Gerung (Ketua DPD KNPI Provinsi NTB)

‎Satu abad Nahdlatul Ulama (1926–2026 Masehi) bukan sekadar penanda usia sebuah organisasi keagamaan, melainkan tonggak peradaban. NU telah tumbuh bersama Republik, mengakar kuat di denyut sosial masyarakat, dan menjadi penyangga utama Islam moderat yang ramah, inklusif, dan berwatak kebangsaan. Dari sudut pandang pemuda, satu abad NU adalah warisan besar sekaligus amanat sejarah yang tidak ringan.

‎NU lahir dari kesadaran para ulama untuk merawat tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah di tengah perubahan zaman. Dalam perjalanannya, NU tidak hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga merawat Indonesia. Resolusi Jihad 1945 menjadi bukti bahwa NU tidak pernah absen saat bangsa berada di persimpangan sejarah. Tradisi dan nasionalisme dalam NU bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan saling menguatkan.

‎Di Nusa Tenggara Barat (NTB), jejak NU tumbuh subur melalui pesantren, majelis taklim, dan kultur masyarakat yang religius. Pesantren-pesantren NU di NTB tidak hanya mencetak santri yang paham kitab kuning, tetapi juga membentuk karakter sosial: tawadhu, gotong royong, dan cinta tanah air. Inilah fondasi peradaban yang kerap luput dari sorotan, namun menjadi kekuatan laten daerah.

‎Namun, memasuki abad kedua, tantangan NU dan umat jauh berbeda. Zaman bergerak cepat. Disrupsi digital, krisis identitas generasi muda, arus radikalisme transnasional, hingga pragmatisme politik menjadi ujian baru. Dalam konteks ini, merawat tradisi saja tidak cukup. Tradisi harus diberi makna baru agar tetap relevan bagi generasi muda.

‎Di sinilah peran pemuda menjadi kunci. Pemuda NU dan pemuda daerah, termasuk di NTB, tidak boleh hanya menjadi pewaris simbolik. Mereka harus menjadi aktor perubahan. Rejuvenasi pemuda daerah bukan semata soal usia, melainkan pembaruan cara berpikir, cara bergerak, dan cara berkontribusi bagi masyarakat.

‎NTB memiliki bonus demografi yang besar. Jika tidak diarahkan, bonus ini bisa berubah menjadi beban sosial. Tetapi jika dikelola dengan baik, pemuda NTB dapat menjadi motor penggerak peradaban baru yang berakar pada nilai-nilai lokal dan keislaman moderat ala NU. Pesantren, organisasi kepemudaan, dan ruang-ruang publik harus menjadi laboratorium gagasan, bukan sekadar ruang seremonial.

‎Pemuda NU di daerah perlu tampil sebagai jembatan antara tradisi dan masa depan. Tradisi keilmuan pesantren harus bertemu dengan literasi digital. Nilai tawassuth, tasamuh, dan tawazun harus hadir dalam ruang-ruang media sosial, diskursus publik, hingga kebijakan daerah. Pemuda tidak cukup hanya “menjaga”, tetapi juga “menerjemahkan” nilai NU ke dalam bahasa zaman.

‎Rejuvenasi pemuda daerah juga menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Pemuda NTB harus didorong untuk mengambil peran strategis: menjadi pendidik, wirausahawan sosial, pemimpin komunitas, hingga pengambil kebijakan. NU dengan jaringan kulturalnya memiliki modal sosial besar untuk melahirkan kader-kader muda yang berintegritas dan berwawasan kebangsaan.

‎Satu abad NU mengajarkan bahwa kekuatan tradisi bukan pada romantisme masa lalu, tetapi pada kemampuannya beradaptasi. NU bertahan karena lentur tanpa kehilangan prinsip. Spirit inilah yang harus diwarisi pemuda. Menjadi modern tanpa tercerabut dari akar, menjadi global tanpa kehilangan identitas lokal.

‎Bagi pemuda daerah seperti di NTB, masa depan peradaban tidak harus dimulai dari pusat kekuasaan. Ia bisa tumbuh dari desa, pesantren, dan komunitas lokal. Ketika pemuda mampu memadukan nilai keislaman, kearifan lokal, dan semangat kebangsaan, maka daerah bukan lagi pinggiran, melainkan pusat-pusat peradaban baru.

‎Satu abad NU adalah momentum refleksi dan proyeksi. Bagi pemuda, ini adalah ajakan untuk tidak sekadar berbangga pada sejarah, tetapi berani mengambil tanggung jawab masa depan. Merawat tradisi adalah fondasi, tetapi menjemput masa depan adalah panggilan zaman. Dan di tangan pemuda daerah, termasuk pemuda NTB, estafet peradaban itu kini berada.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *