Yenny Wahid : Aset Terbesar NU Adalah Manusia dan Nilai, Bukan Sekadar Bangunan

Tebuireng, Jombang Jawa Timur, 17 Desember 2025 —
Yenny Wahid, putri Presiden ke-4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menegaskan bahwa aset terbesar Nahdlatul Ulama (NU) bukanlah gedung, tanah, maupun kekayaan material, melainkan manusia, nilai, dan tradisi yang hidup di dalam organisasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Yenny Wahid dalam pidatonya pada Haul Gusdur ke-16. Dalam pidatonya tersebut, ia mengingatkan bahwa kekuatan NU selama ini bertumpu pada jamaah, santri, kader, dan warga NU yang setia menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah masyarakat.

Menurut Yenny Wahid, keberadaan aset fisik memang penting sebagai penunjang aktivitas organisasi. Namun, hal itu tidak boleh disalahartikan sebagai inti kekuatan NU. Justru nilai-nilai keislaman yang diwariskan para ulama NU seperti tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) merupakan fondasi utama yang menjaga NU tetap relevan dan diterima oleh berbagai kalangan.

Ia juga menekankan bahwa warisan pemikiran, sanad keilmuan, serta keteladanan para kiai dan ulama NU adalah aset yang tidak ternilai dan tidak dapat digantikan oleh materi apa pun. Aset inilah yang membentuk karakter NU sebagai organisasi keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang mengakar kuat di masyarakat.

Lebih lanjut, Yenny Wahid mengingatkan pentingnya peran generasi muda NU dalam merawat dan menjaga aset tersebut. Tanpa kaderisasi yang berkelanjutan dan kesadaran terhadap nilai perjuangan, NU berisiko kehilangan ruh perjuangannya meskipun memiliki nama besar dan infrastruktur yang megah.

Dengan demikian, pesan utama yang disampaikan adalah bahwa NU akan tetap kokoh selama manusianya dirawat, nilainya dijaga, dan tradisinya terus dihidupkan. Sebaliknya, jika nilai dan kaderisasi diabaikan, maka kekuatan NU akan melemah dari dalam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *