Puncak Tri Ukhuwah, Menguji Ukhuwah Bashariyah KH Ahmad Shiddiq di Tengah Krisis Empati Indonesia.

Senin, 27 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-28 yang berlangsung pada tahun 1989 di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, tenyata bukan sekadar perhelatan organisasi keagamaan biasa. Peristiwa ini telah menjadi tonggak sejarah pemikiran Islam Nusantara ketika Rais Aam PBNU saat itu, KH Ahmad Shiddiq, secara meyakinkan memformulasikan rekonseptualisasi persaudaraan saat memberikan sambutan kepada peserta muktamar yang kita kenal dengan Tri Ukhuwah. Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa), dan Ukhuwah Bashariyah atau Insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Pada saat itu, seluruh peserta muktamar yang hadir dan masyarakat Indonesia relatif lebih cepat mencerna dua pilar pertama. Ukhuwah Islamiyah memiliki pijakan teologis yang kuat dan sudah mendarah daging dalam tradisi keagamaan masyarakat karena ini menyangkut persaudraan sesama muslim. Ukhuwah Wathaniyah menemukan artikulasinya melalui komitmen satu tanah air kebangsaan, konsensus Pancasila, dan penerimaan NKRI sebagai bentuk final negara. Namun, pilar ketiga Ukhuwah Bashariyah barangkali hanya ditangkap sebagai wacana pelengkap atau jargon toleransi yang bersifat abstrak. Tidak banyak yang menyadari pada masa itu bahwa Ukhuwah Bashariyah sejatinya adalah terobosan teologis mendasar yang meletakkan martabat kemanusiaan di tempat yang paling mulia.

KH Ahmad Shiddiq meyakini bahwa ketiga bentuk ukhuwah ini tidak saling menyangkal, melainkan membentuk tingkatan konsentris yang saling menguatkan. Jika Ukhuwah Islamiyah dibatasi oleh batas-batas akidah, dan Ukhuwah Wathaniyah dipagari oleh batas-batas teritorial geopolitik, maka Ukhuwah Bashariyah meruntuhkan seluruh sekat artifisial tersebut. Ia berada pada lingkar terluas sekaligus menjadi fondasi mendasar bagi relasi antarmanusia.

Secara filosofis dan teologis, KH Ahmad Shiddiq ingin menjelaskan dan menyadarkan kita bahwa alasan mendasar untuk menghormati sesama manusia tidak membutuhkan prasyarat identitas. Kita tidak harus menyetujui keyakinan seseorang, satu suku, atau satu kewarganegaraan darinya untuk memanusiakannya.

Alasannya tentu sangat mendasar ”Kita sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT yang dianugerahi derajat kehormatan (Karamah Insaniyah) dan diamanahkan untuk saling menyambung silaturahmi serta merawat keharmonisan di muka bumi”.

Mengapa kemudian Ukhuwah Bashariyah disebut sebagai bentuk persaudaraan level paling tinggi? Sebab, ia menguji ketulusan dan kedewasaan beragama seorang manusia. Sangat mudah mencintai orang yang seagama dengan kita, relatif gampang membela orang yang bertanah air sama dengan kita. Namun, mengakui, menghormati, dan membela hak-hak dasar manusia yang berbeda agama, beda etnis, beda pandangan politik, atau bahkan yang berada di lapisan paling marjinal dalam masyarakat, di sinilah kapasitas empati manusia diuji pada tingkat tertinggi.

Gagasan teologis KH Ahmad Shiddiq yang dicetuskan dekade lalu kini menemukan relevansinya yang sangat mendesak. Ketika kita menyaksikan fenomena sosial hari ini, tampak jelas betapa rapuhnya cara kita memandang nilai sebuah nyawa dan kehormatan manusia.

Tragedi kemanusiaan tidak hanya terjadi dalam skala besar, tetapi juga dalam keseharian kita. Peristiwa seperti seorang ayah yang terdesak kebutuhan hidup hingga mencuri ayam, lalu dikeroyok secara brutal oleh massa hingga tewas, adalah bukti nyata kebangkrutan empati.

Ketika aksi amuk massa terjadi, hukum dikangkangi dan martabat kemanusiaan diabaikan. Korban tidak lagi dipandang sebagai sesama manusia yang memiliki hak atas keadilan dan pengadilan yang layak, melainkan direduksi semata-mata sebagai pelaku kejahatan yang sah untuk dihabisi. Hilangnya Ukhuwah Bashariyah membuat amarah kolektif dengan mudah mencabut hak paling mendasar yang dimiliki manusia, yakni hak untuk hidup.

Ketimpangan pemahaman kemanusiaan ini juga tercermin nyata dalam penyikapan terhadap berbagai peristiwa di daerah konflik seperti Papua. Ketika konflik sosial, ekonomi, dan politik berkecamuk, nyawa manusia sering kali kehilangan nilainya.

Korban yang gugur baik dari warga sipil, aparat, maupun masyarakat lokal sering kali hanya dihitung sebagai angka statistik atau sekadar dikategorikan berdasarkan garis batas pihak kita versus pihak mereka. Ketika pandangan kita telah dibutakan oleh stigma dan pembatas identitas, kita gagal melihat bahwa setiap darah yang tertumpah di tanah Papua adalah darah dari saudara sesama manusia yang memiliki keluarga, masa depan, dan martabat yang sama tingginya.

Kasus lainnya juga yang marak di lini masa media kita belakangan ini seperti pengeroyokan pencuri sepeda motor hingga tewas di Morowali, tewasnya seorang anggota TNI di Tangerang akibat diamuk massa, menjadi alarm keras bagi kesadaran kolektif kita. Rentetan peristiwa kelam ini bukan sekadar potret maraknya tindakan main hakim sendiri, melainkan bukti nyata bahwa kita sedang mengalami krisis empati dan perlahan kehilangan roh Ukhuwah Bashariyah.

Refleksi atas pemikiran KH Ahmad Shiddiq mengajarkan kita satu hal penting. Persaudaraan keagamaan maupun kebangsaan yang berdiri tanpa fondasi kemanusiaan universal akan rawan tergelincir menjadi sikap eksklusif, fanatisme sempit, dan pembenaran atas kekerasan.

Ukhuwah Bashariyah bukanlah teori akademis yang mengawang-awang, melainkan sebuah komitmen etis untuk:

  • Menghormati kesucian nyawa manusia (Hifdz an-Nafs) tanpa memandang status sosial, ras, maupun kesalahannya di mata hukum.
  • Menolak segala bentuk kekerasan dan tindakan main hakim sendiri (vigilantism) yang merendahkan martabat manusia.
  • Menumbuhkan empati radikal, yaitu kemampuan untuk melihat wajah saudara sesama ciptaan Tuhan pada diri siapa pun yang sedang tertindas, teraniaya, atau terancam hak hidupnya.

Sudah saatnya kita tidak sekadar menghafal konsep Tri Ukhuwah ini sebagai jargon historis. Tulisan ini mengajak kita menghidupkan kembali roh Ukhuwah Bashariyah dalam keseharian, menjadikannya kompas moral dalam berbangsa, beragama, dan bermasyarakat, demi memastikan tidak ada lagi nyawa manusia yang melayang sia-sia atas nama ketidakpedulian.

Penulis : Ahmad Imamul Huda S.H

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Menyikapi Perdebatan Tuan Rumah Muktamar NU Ke- 35 Seri (II)
Menyikapi Perdebatan Tuan Rumah Muktamar NU ke- 35 (Muktamar Bukan Arena Rebutan Prestise, Melainkan Ikhtiar Menjaga Marwah Jam’iyyah)
Gelombang Dukungan Menguat, NTB Makin Dekat Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke- 35
IPNU NTB Teguhkan Komitmen Dukungan NTB Tuan Rumah Muktamar NU Ke – 35
Sinergi LKNU NTB, HIMA Farmasi UNIQHBA, dan IAI Loteng Layani Kesehatan Warga
Munas-Konbes Berakhir, KH Nurul Huda Djazuli Serukan Persatuan dan Penguatan Pesantren
Jelang Muktamar Ke-35, Dukungan Untuk NTB Menguat di Munas- Konbes.
PWNU NTB Bulat Usulkan TGH. Turmudzi Badaruddin Sebagai Anggota AHWA PBNU.

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 11:30

Puncak Tri Ukhuwah, Menguji Ukhuwah Bashariyah KH Ahmad Shiddiq di Tengah Krisis Empati Indonesia.

Senin, 6 Juli 2026 - 09:01

Menyikapi Perdebatan Tuan Rumah Muktamar NU Ke- 35 Seri (II)

Sabtu, 4 Juli 2026 - 02:57

Menyikapi Perdebatan Tuan Rumah Muktamar NU ke- 35 (Muktamar Bukan Arena Rebutan Prestise, Melainkan Ikhtiar Menjaga Marwah Jam’iyyah)

Kamis, 25 Juni 2026 - 07:16

Gelombang Dukungan Menguat, NTB Makin Dekat Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke- 35

Rabu, 24 Juni 2026 - 05:29

Sinergi LKNU NTB, HIMA Farmasi UNIQHBA, dan IAI Loteng Layani Kesehatan Warga

Berita Terbaru

Uncategorized

PONPES QAMARUL HUDA BAGU SIAP MENJADI TUAN RUMAH MUKTAMAR NU 35

Minggu, 5 Jul 2026 - 04:46