Penulis: Ir. H. Ilham Israil (Mudir JATMAN NU NTB)
Disrupsi peran teknologi informasi dan komunikasi saat ini harus diikuti dengan penguatan karakter generasi kita, jika mereka tidak memiliki karakter, integritas, dan analisa informasi yang kuat, maka akan tergerus dengan berbagai macam informasi yang tidak benar. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) sebagai manifestasi dari nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Karakter mengandung nilai-nilai khas baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.
Karakter merupakan kemampuan individu untuk mengatasi keterbatasan fisiknya dan kemampuannya untuk membaktikan hidupnya pada nilai-nilai kebaikan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian, karakter yang kuat membentuk individu menjadi pelaku perubahan bagi diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang.
Penguatan pendidikan karakter diselenggarakan melalui pendekatan berbasis masyarkat dapat dilaksanakan melalui pelibatan perorangan kelompok masyarakat dan/atau lembaga. Dalam hal ini kelompok masyarakat dapat berupa kelompok-kelompok pengamal tarekat yang telah bergabung dalam sebuah organisasi kemasyarakatan Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN). JATMAN adalah lembaga keagamaan pengamal tarekat yang juga melakukan pembinaan dan pengawasan kelompok pengamal tarekat Al-Mu’tabarah, karena semua amalan tarekatnya bersambung (muttasil) sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW, yang mana beliau menerima dari malaikat Jibril AS, dan Malaikat Jibril dari Allah SWT.
Dalam kacamata tarekat, berbicara karakter hal utama yang perlu dipahami adalah konsep tentang diri atau nafs. Tarekat adalah jalan menuju Tuhan. Praktek olah ruhani yang dibimbing oleh seorang mursyid yang memiliki kebersihan rohani dan kehidupan bathin yang bersih dan suci. Mursyid mempunyai kedudukan yang penting dalam ilmu tarekat, karena mursyid tidak saja seorang pembimbing yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan lahiriyah sehari-hari agar tidak menyimpang dari ajaran Islam dan terjerumus dalam kemaksiatan, tetapi ia juga merupakan pemimpin kerohanian bagi para muridnya agar bisa wushul (terhubung) dengan Allah SWT. Melalui bimbingan seorang mursyid pelaksanaan Pendidikan karakter bukan hanya untuk memajukan bangsa semata namun juga mendekatkan warganya kepada Allah SWT.
Disinilah peran tarekat untuk mengawal abad kedua Nahdlatul Ulama sebagai pembimbing pembentukan karakter masyarakat yang fungsinya menanamkan nilai-nilai karakter kepada pengamal tarekat (salik) atau muridnya yang merupakan nilai-nilai pendidikan yang bersumber pada ajaran Islam.
















Leave a Reply