Senin, 07 September 2026
“Melanjutkan Pengabdian, Menggapai Bukti Bakti”
Logo Resmi PWNU NTB

NAHDLATUL ULAMA

Nusa Tenggara Barat

MUKTAMAR NU 35 Agustus 31, 2026 4 menit baca

Mengenal Gus Kikin, Ketua Umum PBNU 2026–2031: Ulama, Santri, dan Pernah Keliling Dunia

Admin

Tim Redaksi / Kontributor Resmi PWNU NTB

KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 pada Senin (31/8/2026).

Gus Kikin dikenal sebagai ulama yang memiliki garis keturunan kuat dari sejumlah tokoh besar pesantren sekaligus perjalanan hidup yang cukup unik. Sebelum dikenal luas sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, ia pernah menempuh pendidikan pelayaran dan menjalani karier di perusahaan pelayaran nasional.

Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Kikin meneruskan perjuangan almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Gus Kikin merupakan putra almarhum KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum. Dari jalur ibunya, nasab Gus Kikin tersambung kepada Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari melalui sang nenek, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH M. Hasyim Asy’ari.

Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim kemudian menikah dengan KH Ma’shum Ali, ulama ahli falak terkemuka asal Gresik.

Sementara dari jalur ayah, Gus Kikin memiliki hubungan nasab dengan KH Anwar bin Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang.

Dari garis keluarga tersebut, Gus Kikin juga merupakan adik sepupu KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Menjadi Santri, Lalu Menempuh Pendidikan Pelayaran

Gus Kikin lahir di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang, Jawa Timur. Ia merupakan putra kedelapan dari 11 bersaudara.

Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Parimono Jombang pada 1963–1970. Di saat yang sama, ia juga mengenyam pendidikan pesantren di Pesantren Seblak.

Pendidikan formalnya berlanjut di SMP Negeri 1 Jombang pada 1971–1973 dan SMA Jombang pada 1974–1977.

Namun, perjalanan pendidikan Gus Kikin kemudian mengambil jalur yang cukup berbeda dari kebanyakan santri.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia memilih masuk Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta pada 1975–1979.

Pendidikan tersebut membekalinya dengan keahlian di bidang pelayaran. Ia bahkan sempat menjalani praktik pelayaran dan berkeliling dunia sebanyak empat kali.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam perjalanan hidup Gus Kikin. Dari lingkungan pesantren, ia kemudian bersentuhan langsung dengan dunia maritim dan kehidupan internasional.

Karier di Djakarta Lloyd

Selepas menempuh pendidikan pelayaran, Gus Kikin melanjutkan karier di perusahaan pelayaran milik negara, Djakarta Lloyd.

Kariernya berkembang cukup pesat. Pada usia sekitar 30 tahun, ia dipercaya menduduki posisi sebagai Kepala Cabang Djakarta Lloyd di Cilegon.

Setelah lebih dari satu dekade berkarier di perusahaan tersebut, Gus Kikin memutuskan mengundurkan diri pada 1992.

Ia kemudian mengembangkan usaha sendiri di bidang shipping dan logistik.

Semangat untuk terus belajar juga tetap dijaga. Pada 2013, Gus Kikin kembali menempuh pendidikan, kali ini mengambil jurusan Komunikasi di Universitas Terbuka.

Pendidikan tersebut menjadi bagian dari upayanya mendukung pengembangan usaha media televisi yang sedang dirintisnya.

Dari Wakil Pengasuh hingga Memimpin Tebuireng

Perjalanan Gus Kikin kembali ke dunia pesantren semakin kuat ketika KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah memintanya pada Januari 2016 untuk menjadi Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Penunjukan tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan regenerasi kepemimpinan di lingkungan pesantren yang didirikan Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari tersebut.

Setelah Gus Sholah wafat, Gus Kikin kemudian dipercaya melanjutkan amanah sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Penunjukan tersebut disepakati melalui musyawarah keluarga besar Bani Hasyim.

Sebagai pengasuh, Gus Kikin membawa pengalaman panjang dari berbagai dunia yang pernah dijalaninya, mulai dari pendidikan pesantren, pendidikan pelayaran, dunia BUMN, bisnis, hingga media.

Di Tebuireng, ia berkomitmen untuk terus merawat warisan intelektual dan pemikiran Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari.

Salah satu perhatian utamanya adalah menggali dan menghidupkan kembali pemikiran pendiri NU tersebut, termasuk melalui pemahaman terhadap karya-karya monumental KH M. Hasyim Asy’ari seperti Qanun Asasi.

Kini Memimpin PBNU

Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawa Gus Kikin ke panggung kepemimpinan nasional NU.

Dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Amanah tersebut menempatkannya di pucuk kepemimpinan Tanfidziyah PBNU untuk lima tahun ke depan.

Perjalanan hidup Gus Kikin menjadi gambaran tentang pertemuan antara tradisi pesantren dan pengalaman profesional. Ia tumbuh dari keluarga ulama, menempuh pendidikan pesantren, pernah menjadi pelaut yang mengelilingi dunia, berkarier di BUMN, mengembangkan bisnis, hingga akhirnya kembali mengabdikan diri di pesantren dan organisasi NU.

Kini, pengalaman panjang tersebut akan menjadi bekal Gus Kikin dalam menjalankan amanah memimpin PBNU.

Lima tahun ke depan akan menjadi fase baru bagi NU, dengan Gus Kikin sebagai Ketua Umum dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU.

Facebook Comments Box
Bagikan Informasi Ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *