PMII, Gen Z Dan Abad Kedua NU: Merawat Jagat Membangun Pradaban.

Penulis : Ahmad Muzakkir (Ketua PKC PMII Bali-Nusra)


Abad kedua Nahdlatul Ulama bukan sekadar penanda usia, melainkan titik balik sejarah. Jika abad pertama NU diisi oleh perjuangan menjaga agama dari kolonialisme, ekstremisme, dan keterputusan tradisi, maka abad kedua menghadirkan tantangan yang lebih subtil namun tak kalah berbahaya: krisis makna, banalitas keagamaan, dan degradasi nalar publik di tengah disrupsi digital. Di ruang inilah PMII sebagai organisasi kader intelektual NU tidak bisa lagi berdiri di pinggir sejarah.

Generasi Z menjadi aktor utama dalam lanskap baru ini. Mereka tumbuh dalam dunia yang serba cepat, serba instan, dan nyaris tanpa jeda refleksi. Otoritas keilmuan tergeser oleh algoritma, kebenaran dikalahkan oleh viralitas, dan keberpihakan sering kali dibentuk oleh emosi kolektif alih-alih argumentasi rasional. Dalam situasi semacam ini, agama berisiko direduksi menjadi simbol, slogan, atau bahkan komoditas. NU di abad kedua berhadapan dengan kenyataan bahwa tantangan terbesar bukan lagi serangan dari luar, melainkan pengosongan makna dari dalam.

Di sinilah posisi PMII menjadi krusial. PMII tidak dilahirkan sebagai organisasi massa biasa, melainkan sebagai ruang kaderisasi nalar tempat nilai Ahlussunnah wal Jama’ah bertemu dengan tradisi berpikir kritis. Namun harus diakui secara jujur, PMII juga tidak kebal dari problem zaman. Kaderisasi yang terlalu administratif, aktivisme yang reaktif, serta kecenderungan menjadikan gerakan sebatas panggung simbolik, berpotensi menjauhkan PMII dari mandat intelektualnya. Abad kedua NU menuntut keberanian untuk melakukan otokritik, bukan sekadar perayaan identitas.

Konsep merawat jagat yang menjadi ruh NU sejatinya adalah konsep etis sekaligus epistemologis. Ia bukan hanya tentang menjaga harmoni sosial, tetapi juga menjaga kualitas berpikir masyarakat. Dalam konteks kekinian, merawat jagat berarti merawat nalar publik dari hoaks, populisme keagamaan, dan logika pasar yang mereduksi manusia menjadi angka. PMII dituntut menjadi aktor yang hadir di ruang-ruang tersebut bukan dengan kemarahan, tetapi dengan argumentasi; bukan dengan moral panic, tetapi dengan kedalaman analisis.

Sementara itu, membangun peradaban bukanlah proyek instan. Ia tidak lahir dari pidato yang lantang atau unggahan yang viral, melainkan dari kerja sunyi: membaca, menulis, berdialog, dan berpihak pada nilai keadilan. Peradaban selalu dibangun oleh kelompok minoritas yang berpikir lebih jauh dari zamannya. Jika PMII ingin tetap relevan di abad kedua NU, maka orientasi gerakannya harus bergeser: dari sekadar reproduksi kader menuju produksi gagasan; dari reaksi sesaat menuju visi jangka panjang.

Relasi PMII dengan negara dan pasar juga perlu dibaca secara kritis. Negara yang semakin teknokratis sering kali abai pada dimensi etis, sementara pasar digital mengkomodifikasi agama tanpa rasa bersalah. Dalam situasi ini, PMII tidak boleh terjebak menjadi penonton, apalagi menjadi alat legitimasi. Sikap kritis terhadap kekuasaan adalah bagian dari tradisi intelektual NU, namun kritik tersebut harus lahir dari basis keilmuan yang kokoh, bukan dari sentimen sesaat. Kritik tanpa pengetahuan hanya akan melahirkan kebisingan, bukan perubahan.

Bagi Gen Z Nahdliyin, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara identitas dan intelektualitas. Identitas tanpa intelektualitas akan melahirkan fanatisme, sementara intelektualitas tanpa akar tradisi akan melahirkan keterasingan. PMII memiliki posisi strategis untuk menjembatani keduanya. Ia harus mampu melahirkan generasi muda yang religius tanpa menjadi sempit, kritis tanpa kehilangan adab, dan progresif tanpa tercerabut dari nilai.

abad kedua NU adalah panggilan sejarah bagi PMII untuk naik kelas. Bukan sekadar lebih besar secara organisasi, tetapi lebih dalam secara intelektual dan lebih matang secara moral. Merawat jagat berarti menjaga manusia agar tetap berpikir, dan membangun peradaban berarti memastikan bahwa perubahan tidak kehilangan arah. Jika PMII mampu mengambil peran ini, maka ia tidak hanya menjadi bagian dari sejarah NU, tetapi juga menjadi penentu wajah peradaban Indonesia ke depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *