Penulis: Zainuddin Amrullah, MA. Kaprodi Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Mataram
Belakangan ini kita menyaksikan paradoks zaman modern: semakin maju teknologi, semakin mudah pekerjaan, tetapi manusia justru semakin lelah (burnout). Istilah burnout kini bukan lagi milik pekerja kantoran atau para buruh. Ia telah menjelma menjadi pengalaman kolektif yang bisa dirasakan oleh siapapun. Banyak orang merasa letih, cemas, dan kehilangan makna, bahkan sebelum hari dan kegiatan benar-benar dimulai. Setiap hari, setiap saat, seketika masyarakat dapat merasa lelah padahal tantangan hidup masih panjang dan beragama. Filsuf Byung-Chul Han menyebut fenomena ini sebagai Burnout Society masyarakat prestasi yang mendorong individu mengeksploitasi dirinya sendiri. Tidak ada lagi paksaan eksternal; yang ada adalah dorongan internal untuk terus produktif. Kita menjadi manajer sekaligus buruh bagi diri sendiri. Akibatnya, kelelahan tidak pernah selesai.
Dalam situasi seperti ini, solusi yang sering ditawarkan bersifat individual: meditasi, liburan singkat, atau konseling personal. Semua penting, tetapi ada satu dimensi yang kerap luput dibicarakan, yakni komunitas. Manusia bukan makhluk soliter. Kesehatan mental juga dibentuk oleh relasi sosial. Di sinilah menarik melihat tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU). Di banyak kampung, warga NU masih memelihara ritme hidup komunal: tahlilan malam Jumat, yasinan, pengajian, selametan, atau sekadar duduk bersama selepas magrib. Aktivitas-aktivitas ini mungkin tampak sederhana, bahkan dianggap tidak produktif dalam logika ekonomi modern. Namun justru di situlah nilai pentingnya.
Tradisi tersebut menciptakan ruang jeda. Di dalam ruang jeda tersebut masyarakat dapat mendorong dan membangkitkan semangat spiritual. Orang berhenti sejenak dari tuntutan kerja, berkumpul tanpa kompetisi, berbagi cerita tanpa tekanan pencapaian. Dalam pertemuan semacam itu, status sosial melebur. Semua setara sebagai jamaah. Beban hidup yang tadinya dipikul sendiri menjadi ringan karena dibagi bersama.
Secara sosiologis, ini adalah social support system. Secara psikologis, ia berfungsi sebagai katarsis emosional. Tanpa disadari, ritual keagamaan bekerja seperti terapi kelompok: menyediakan rasa memiliki, didengar, dan diterima. Faktor-faktor inilah yang terbukti menurunkan risiko stres dan depresi. Lebih jauh, spiritualitas NU yang dipengaruhi tradisi tasawuf juga menawarkan kritik kultural terhadap masyarakat modern. Nilai seperti sabar, qana’ah, tawakal, dan barakah mengajarkan bahwa hidup tidak semata diukur oleh capaian material. Ada dimensi makna yang tak dapat dihitung angka produktivitas.
Ketika modernitas berkata “lebih cepat dan lebih banyak”, spiritualitas justru mengajarkan “cukup dan bermakna”. Di tengah budaya serba kompetitif, pesan ini terasa hampir subversif. Tentu, tradisi bukan jawaban tunggal atas kompleksitas masalah kesehatan mental. Namun pengalaman NU menunjukkan bahwa komunitas dan spiritualitas dapat menjadi fondasi resiliensi sosial. Kesehatan mental tidak hanya lahir dari ruang konsultasi, tetapi juga dari ruang kebersamaan: ruang jam’iyah.
Barangkali inilah pelajaran yang patut kita renungkan: burnout bukan semata masalah individu yang kurang kuat, melainkan gejala masyarakat yang kehilangan jeda. Dan jeda itu mungkin sudah lama tersedia di masjid kampung, di tikar pengajian, di lingkaran doa yang sederhana. Di tengah dunia yang semakin bising oleh target dan pencapaian, tradisi komunal mengingatkan kita bahwa manusia tidak diciptakan untuk terus berlari. Sesekali, kita perlu pulang kepada kebersamaan, kepada makna, kepada keheningan, dan kepada jam’iyah.














Leave a Reply