Idul Fitri 1447 H di Kantor Gubernur NTB, Prof. Adi Fadli Ajak Umat Muliakan Orang Tua

Mataram – Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 H yang berlangsung di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat berjalan khidmat dengan dihadiri Gubernur NTB bersama jajaran Forkopimda serta ribuan masyarakat dari berbagai kalangan.

Bertindak sebagai khatib, Prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag. menyampaikan khutbah bertema “Kepulangan yang Fitrah: Mengetuk Kembali Pintu Maaf Orang Tua.” Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah Ramadhan, tetapi momentum kembali kepada fitrah, terutama dalam memuliakan kedua orang tua.

Menurutnya, makna “pulang” dalam Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai kepulangan fisik ke kampung halaman, melainkan kepulangan hati kepada nilai kasih sayang dan bakti kepada orang tua sebagai jalan meraih ridha Allah SWT.

“Seringkali kita sibuk dengan dunia kita sendiri, namun lalai memberikan waktu dan perhatian kepada orang tua. Inilah yang perlu kita renungkan di hari yang suci ini,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Dalam khutbahnya, ia juga menyoroti fenomena “durhaka secara halus” di era digital, di mana kedekatan secara fisik tidak selalu diiringi dengan kehadiran hati. Banyak anak, lanjutnya, lebih fokus pada gawai dibandingkan berinteraksi dengan orang tua.

Ia mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum meruntuhkan ego, memperbaiki hubungan, dan meminta maaf kepada orang tua sebelum terlambat. Sebab, ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua.

Sementara itu, suasana pelaksanaan Shalat Idul Fitri di halaman Kantor Gubernur NTB dipenuhi antusiasme masyarakat yang datang sejak pagi hari. Kebersamaan antara pemerintah daerah dan masyarakat terlihat dalam suasana penuh kekeluargaan dan kekhusyukan.

Bagi masyarakat yang orang tuanya telah wafat, Prof. Adi Fadli mengingatkan agar tetap melanjutkan bakti melalui doa, amal jariyah, dan menjadi anak saleh.

Khutbah Idul Fitri tersebut menjadi pengingat bahwa hari raya bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan, memperkuat nilai keluarga, dan kembali kepada fitrah kemanusiaan yang penuh kasih sayang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *