Ketua LP Ma’arif NU NTB Soroti Rivalitas Ideologi dalam Pendidikan Islam di Konferensi Internasional Malaysia
Raden Ziad
Tim Redaksi / Kontributor Resmi PWNU NTB
Kedah – Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif) PWNU Nusa Tenggara Barat (NTB), Prof. Dr. H. Saparudin, menjadi keynote speaker dalam International Conference on Islamic Education yang diselenggarakan oleh Universiti Utara Malaysia.
Dalam forum internasional tersebut, Prof. Saparudin mengangkat sejumlah persoalan kontemporer pendidikan Islam, khususnya mengenai menguatnya persaingan ideologis di tengah perubahan sosial-politik Indonesia pasca reformasi.Menurutnya, sejak demokratisasi Indonesia pada 1998, ruang publik semakin terbuka bagi berbagai gerakan Islam, baik yang bercorak transnasional, nasional maupun lokal. Keterbukaan tersebut pada satu sisi menjadi bagian dari dinamika demokrasi, tetapi pada sisi lain melahirkan kompetisi gagasan dan rivalitas antar kelompok yang turut masuk ke dalam ruang pendidikan.
“Sejak demokratisasi Indonesia pada tahun 1998, ruang bagi beragam gerakan Islam, baik transnasional, nasional maupun lokal, telah meluas secara dramatis. Perkembangan ini kemudian meningkatkan persaingan ideologis dan rivalitas antar kelompok,”
demikian pokok gagasan yang disampaikan Prof. Saparudin dalam konferensi tersebut.Ia menjelaskan, persaingan ideologis tersebut tidak berhenti pada ruang politik dan sosial, tetapi telah merembes ke dalam budaya pendidikan Islam. Madrasah dan sekolah Islam berpotensi menjadi arena reproduksi berbagai perspektif keagamaan yang saling berkompetisi.Dalam situasi tertentu, pendidikan agama bahkan dapat bergeser dari fungsi utamanya sebagai ruang pembentukan karakter, intelektualitas dan akhlak menjadi sarana penyebaran pandangan yang bersifat eksklusif.
Menurut Prof. Saparudin, problem tersebut terlihat ketika pendidikan tidak hanya mengajarkan keyakinan terhadap kebenaran agama yang dianut, tetapi juga diikuti kecenderungan untuk mengklaim keselamatan kelompok sendiri sembari menyalahkan atau menyangkal kelompok lain.Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pendidikan Islam. Sebab, pendidikan semestinya tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu hidup dalam masyarakat yang plural, menghargai perbedaan dan membangun dialog dengan kelompok lain.
Karena itu, pendidikan Islam membutuhkan orientasi yang mampu mempertemukan keteguhan dalam beragama dengan keterbukaan terhadap keragaman. Pendidikan tidak boleh kehilangan identitas keislamannya, tetapi pada saat yang sama tidak boleh terjebak dalam eksklusivisme yang menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menegasikan.Gagasan tersebut menjadi penting di tengah perubahan lanskap pendidikan Islam yang semakin kompleks. Sekolah, madrasah, pesantren dan berbagai lembaga pendidikan keagamaan kini tidak hanya berhadapan dengan persoalan kurikulum dan kualitas pembelajaran, tetapi juga dengan derasnya arus ideologi dan informasi yang masuk melalui ruang digital.
Dalam konteks tersebut, pendidikan Islam dituntut membangun daya kritis peserta didik agar mampu memahami keragaman pemikiran keagamaan secara proporsional. Pendidikan harus menjadi ruang yang memperkuat tradisi keilmuan sekaligus membentuk sikap keberagamaan yang moderat, inklusif dan berorientasi pada kemaslahatan.
Sebagai Ketua LP Ma’arif PWNU NTB, Prof. Saparudin juga menempatkan persoalan tersebut sebagai bagian dari tantangan besar lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Penguatan pendidikan yang berakar pada tradisi keislaman Nusantara menjadi penting untuk memastikan bahwa lembaga pendidikan tidak sekadar menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter kebangsaan.
Konferensi internasional di Universiti Utara Malaysia tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan pendidikan Islam di tengah perubahan sosial dan perkembangan global. Kehadiran Prof. Saparudin sekaligus membawa perspektif pendidikan Islam Indonesia dalam percakapan akademik internasional.
Tinggalkan Balasan