Senin, 07 September 2026
“Melanjutkan Pengabdian, Menggapai Bukti Bakti”
Logo Resmi PWNU NTB

NAHDLATUL ULAMA

Nusa Tenggara Barat

MUKTAMAR NU 35 Agustus 22, 2026 5 menit baca

Anak Muda NU dan Semangat Menyambut Muktamar ke-35

Fathurrahman Jr

Tim Redaksi / Kontributor Resmi PWNU NTB

Oleh: Kusnadi Unying

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, ada satu energi yang semakin terasa: semangat anak muda NU. Mereka bukan sekadar menjadi penonton dalam hajatan besar organisasi, tetapi perlahan menunjukkan bahwa generasi muda memiliki gagasan, kegelisahan, sekaligus harapan besar terhadap masa depan Nahdlatul Ulama.

Muktamar ke-35 NU akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, dengan tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.” Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU untuk menentukan arah organisasi dan khidmah dalam lima tahun mendatang.

Di tengah momentum tersebut, anak muda NU seharusnya tidak hanya hadir membawa semangat, tetapi juga membawa gagasan.

Jangan Hanya Menjadi Penonton

NU memiliki sejarah panjang dalam melahirkan generasi yang berkontribusi bagi bangsa. Dari pesantren, madrasah, kampus, organisasi kepemudaan, hingga ruang-ruang sosial masyarakat, anak muda NU terus tumbuh.

Hari ini tantangannya berbeda.

Anak muda menghadapi dunia digital, perkembangan teknologi kecerdasan buatan, perubahan pola ekonomi, krisis lapangan pekerjaan, disinformasi, perubahan sosial, hingga persoalan lingkungan. Karena itu, NU membutuhkan generasi muda yang mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisi.

Muktamar ke-35 semestinya menjadi momentum untuk memperkuat posisi anak muda dalam perjalanan NU memasuki abad kedua.

Bukan berarti anak muda harus mengambil alih ruang para ulama. Justru sebaliknya, anak muda harus menjadi generasi yang mampu meneruskan sanad keilmuan, tradisi pesantren, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus menerjemahkannya ke dalam konteks zaman yang baru.

Dari Semangat Menjadi Gagasan

Semangat tanpa gagasan akan cepat hilang.

Karena itu, antusiasme anak muda menuju Muktamar harus diarahkan menjadi energi intelektual. Anak muda NU harus berani berbicara tentang pendidikan, ekonomi, teknologi, lingkungan, kebudayaan, kewirausahaan, kesehatan masyarakat, hingga masa depan pesantren.

Mereka juga harus berani bertanya: seperti apa NU lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan?

Pertanyaan tersebut penting karena Muktamar bukan sekadar momentum memilih pemimpin. Muktamar adalah ruang untuk menentukan arah perjalanan organisasi.

Bahkan sejumlah diskursus menjelang Muktamar ke-35 menempatkan anak muda sebagai salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian serius NU, bersama masyarakat perkotaan, kalangan profesional, kelas menengah, dan perempuan.

Artinya, kebutuhan untuk memberi ruang lebih besar kepada generasi muda bukan sekadar wacana. Ia merupakan kebutuhan strategis organisasi.

Anak Muda Harus Berani Berbeda, Tetapi Tetap Beradab

Salah satu kekuatan NU adalah tradisi musyawarah dan penghormatan terhadap ulama.

Anak muda boleh kritis. Bahkan harus kritis.

Tetapi kritik dalam tradisi NU bukanlah kebencian. Perbedaan pendapat bukan alasan untuk saling mencaci. Kompetisi gagasan tidak boleh berubah menjadi permusuhan.

Inilah tantangan besar generasi muda NU di era media sosial.

Perdebatan politik, pilihan calon pemimpin, perbedaan pandangan organisasi, bahkan perbedaan pilihan dalam Muktamar adalah hal yang wajar. Yang tidak boleh hilang adalah akhlak.

Anak muda NU harus menunjukkan bahwa tradisi intelektual dapat berjalan bersama tradisi pesantren: berani berpikir, tetapi tetap santun; kritis, tetapi tidak kehilangan adab; progresif, tetapi tetap memiliki akar.

Jangan Biarkan Muktamar Hanya Menjadi Perebutan Kekuasaan

Muktamar akan selalu memiliki dinamika kepemimpinan. Itu bagian dari organisasi.

Namun, terlalu sempit jika Muktamar hanya dipahami sebagai arena perebutan jabatan.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang akan NU kerjakan setelah Muktamar selesai?

Bagaimana NU memperkuat pendidikan?

Bagaimana NU menciptakan ruang ekonomi bagi generasi muda?

Bagaimana pesantren menghadapi transformasi digital?

Bagaimana NU melahirkan kader yang kompeten di bidang teknologi?

Bagaimana NU menghadapi perubahan iklim?

Bagaimana NU memperkuat advokasi masyarakat kecil?

Bagaimana NU memastikan anak muda tidak hanya menjadi objek program, tetapi menjadi subjek perubahan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting untuk dibawa ke ruang-ruang diskusi menjelang Muktamar.

Anak Muda dan Masa Depan NU

NU telah memasuki abad kedua. Muktamar ke-35 menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan bagaimana organisasi ini berjalan dalam fase baru tersebut.

Generasi muda memiliki posisi strategis karena merekalah yang akan menjalankan sebagian besar agenda NU pada masa depan.

Karena itu, anak muda NU tidak boleh hanya diminta hadir ketika organisasi membutuhkan tenaga. Mereka harus diberi ruang untuk belajar, berdiskusi, memimpin, berinovasi, dan mengambil tanggung jawab.

Namun ruang itu juga harus dijawab dengan kesiapan.

Anak muda NU harus meningkatkan kapasitas. Tidak cukup hanya memiliki loyalitas organisasi. Dibutuhkan kompetensi, integritas, kemampuan membaca persoalan, penguasaan teknologi, kemampuan komunikasi, dan keberanian menghadirkan solusi.

NU membutuhkan anak muda yang tidak hanya bangga menjadi Nahdliyin, tetapi mampu menunjukkan manfaat menjadi Nahdliyin bagi masyarakat.

Menjaga Marwah, Memperluas Khidmah

Tema Muktamar ke-35, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa,” seharusnya menjadi panggilan bagi seluruh generasi muda NU.

Menjaga marwah berarti menjaga kehormatan organisasi, tradisi keilmuan, akhlak, dan nilai-nilai yang diwariskan para ulama.

Memperkaya khidmah berarti berani mencari cara baru agar NU semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Di sinilah anak muda memiliki peran besar.

Mereka membawa energi baru, kreativitas baru, teknologi baru, sekaligus perspektif baru. Jika energi tersebut bertemu dengan kebijaksanaan para ulama dan pengalaman generasi sebelumnya, NU akan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menghadapi tantangan zaman.

Maka, menuju Muktamar ke-35, anak muda NU tidak cukup hanya bertanya “siapa yang akan memimpin NU?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“NU seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?”

Jika pertanyaan itu mampu dijawab bersama, Muktamar tidak akan berhenti sebagai agenda lima tahunan.

Ia akan menjadi titik tolak bagi lahirnya energi baru NU.

Dan anak muda harus berada di garis depan energi tersebut—bukan untuk meninggalkan tradisi, tetapi untuk memastikan tradisi tetap hidup, berkembang, dan memberikan manfaat bagi zaman.

Karena masa depan NU bukan hanya akan ditentukan di ruang sidang Muktamar, tetapi juga oleh sejauh mana generasi mudanya berani belajar, berpikir, berkhidmah, dan mengambil tanggung jawab.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *