Menyikapi Perdebatan Tuan Rumah Muktamar NU ke- 35 (Muktamar Bukan Arena Rebutan Prestise, Melainkan Ikhtiar Menjaga Marwah Jam’iyyah)

Sabtu, 4 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh:Prof. Dr. H. M. Zaidi Abdad, M.Ag.A’wan Syuriyah PBNU Wakil Rais Syuriyah PWNU Nusa Tenggara Barat”

Boleh berbeda usulan, tetapi jangan berbeda tujuan. Boleh berbeda pandangan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Sebab yang hendak kita besarkan bukan nama daerah, melainkan Nahdlatul Ulama.”Perbincangan mengenai daerah yang akan menjadi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 semakin menghangat. Berbagai daerah menyampaikan kesiapan, menunjukkan potensi, bahkan menghadirkan argumentasi yang menurut mereka layak dipertimbangkan.

Fenomena ini sesungguhnya merupakan pertanda baik. Ini menunjukkan bahwa warga Nahdliyin di berbagai wilayah merasa memiliki dan mencintai (sense of belonging) yang tinggi terhadap jam’iyyah yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.Namun, di tengah antusiasme tersebut, ada satu hal yang perlu terus dijaga: jangan sampai semangat menjadi tuan rumah berubah menjadi perlombaan gengsi yang mengikis ukhuwah. Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا”

Muktamar bukanlah panggung untuk menentukan siapa daerah yang paling hebat, melainkan forum permusyawaratan tertinggi yang sejak awal dirancang sebagai sarana memperkuat persatuan, merumuskan arah perjuangan, dan menjaga kesinambungan khidmah Nahdlatul Ulama kepada umat, bangsa, dan negara.Al-Qur’an telah memberikan landasan yang sangat kuat tentang pentingnya menjaga persatuan. Allah Swt.

Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).Ayat ini bukan hanya berbicara tentang persatuan dalam ranah ibadah, tetapi juga mengajarkan etika bermusyawarah, menyelesaikan perbedaan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan. Dalam konteks Muktamar NU, pesan tersebut sangat relevan. Perbedaan pandangan mengenai lokasi penyelenggaraan adalah sesuatu yang wajar, tetapi jangan sampai mengurangi rasa saling menghormati di antara sesama Nahdliyin.Allah Swt. juga mengingatkan

:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).Persaudaraan dalam Islam bukanlah persaudaraan yang berhenti ketika muncul perbedaan pendapat. Justru persaudaraan diuji ketika masing-masing memiliki pandangan yang berbeda. Di sinilah adab menjadi penentu. Para ulama salaf telah lama mengajarkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh melahirkan perpecahan hati.Imam al-Syafi’i memberikan teladan yang sangat indah melalui ungkapannya yang masyhur

:رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ

“Pendapatku benar, tetapi masih mengandung kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah menurut pandanganku, tetapi masih mengandung kemungkinan benar.”Kalimat ini bukan sekadar menunjukkan keluasan ilmu Imam al-Syafi’i, melainkan mencerminkan keluhuran akhlak seorang ulama. Dalam organisasi sebesar NU, semangat seperti inilah yang semestinya menjadi ruh setiap perbedaan pandangan.Muktamar Adalah Amanah, Bukan Hadiah Ada kecenderungan dalam setiap organisasi bahwa menjadi tuan rumah sering dipahami sebagai sebuah kemenangan. Padahal, dalam tradisi Nahdlatul Ulama, menjadi tuan rumah sejatinya adalah amanah pelayanan (khidmah), bukan simbol superioritas.

Yang dibanggakan bukanlah status sebagai penyelenggara, tetapi kemampuan memberikan pelayanan terbaik kepada para ulama, kiai, dan peserta Muktamar.Dalam kaidah fikih disebutkan:

تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ”

Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyat harus selalu didasarkan pada kemaslahatan.”Kaidah ini memberikan pelajaran bahwa setiap keputusan organisasi harus bertumpu pada maslahat yang lebih luas. Penetapan tuan rumah Muktamar hendaknya dilihat dari sudut pandang kemanfaatan bagi jam’iyyah, bukan sekadar kebanggaan sebuah daerah. Karena itu, siapa pun yang kelak dipilih, keputusan tersebut seyogianya dipahami sebagai hasil ijtihad organisasi demi kemaslahatan bersama.*Warisan Hadratussyaikh: NU Dibangun dengan Persatuan*Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama mengajarkan bahwa organisasi ini lahir bukan karena ambisi kekuasaan, melainkan karena panggilan menjaga agama, tradisi pesantren, dan kemaslahatan umat.

Para pendirinya adalah ulama-ulama besar yang menempatkan musyawarah di atas kepentingan pribadi.Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menanamkan fondasi bahwa kekuatan NU tidak terletak pada kebesaran nama seseorang atau suatu daerah, tetapi pada kokohnya persaudaraan dan keikhlasan dalam berkhidmah. Karena itu, setiap dinamika organisasi harus dikembalikan kepada adab berjamaah.Dalam tradisi pesantren dikenal sebuah maqalah:الأدب فوق العلم”Adab berada di atas ilmu.”Ungkapan ini bukan bermaksud merendahkan ilmu, melainkan menegaskan bahwa ilmu hanya akan melahirkan kemaslahatan apabila dibingkai oleh adab. Begitu pula dalam menyampaikan aspirasi mengenai Muktamar.

Argumentasi boleh kuat, tetapi cara menyampaikannya harus tetap santun.Menempatkan Nahdlatul Ulama di Atas Kepentingan DaerahKecintaan kepada daerah adalah sesuatu yang fitri. Setiap warga tentu berharap daerahnya memperoleh kesempatan menjadi tuan rumah Muktamar. Namun kecintaan tersebut harus ditempatkan dalam bingkai kecintaan yang lebih besar, yakni kecintaan kepada Nahdlatul Ulama.Di sinilah kita dapat memetik pelajaran dari sebuah kaidah besar:

المصلحة العامة مقدمة على المصلحة الخاصة”

Kemaslahatan umum didahulukan daripada kemaslahatan khusus.”Apabila kepentingan jam’iyyah menuntut sebuah keputusan tertentu, maka seluruh warga NU berkewajiban menerimanya dengan lapang dada. Sebab yang sedang dijaga bukanlah kepentingan sebuah wilayah, melainkan keberlangsungan perjuangan organisasi.*Menjadi Dewasa dalam Berdemokrasi*Nahdlatul Ulama telah membuktikan selama hampir satu abad bahwa perbedaan pendapat dapat dikelola melalui musyawarah. Inilah salah satu warisan terbesar para masyayikh.

Demokrasi dalam NU bukan demokrasi yang saling meniadakan, tetapi demokrasi yang dipagari oleh adab, akhlak, dan penghormatan kepada keputusan bersama.Karena itu, siapa pun yang memiliki pandangan mengenai lokasi penyelenggaraan Muktamar, hendaknya menyampaikan argumentasinya secara objektif, ilmiah, dan penuh penghormatan kepada daerah lain. Tidak ada manfaatnya membangun narasi yang merendahkan pihak lain, sebab pada akhirnya seluruh peserta Muktamar adalah satu keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Penutup Perdebatan mengenai tuan rumah Muktamar NU ke-35 hendaknya menjadi momentum untuk menunjukkan kedewasaan organisasi. Semakin besar organisasi, semakin besar pula kemampuannya mengelola perbedaan dengan bijaksana. Aspirasi dari berbagai daerah merupakan kekayaan yang patut dihargai, selama semuanya tetap berada dalam koridor ukhuwah, musyawarah, dan kemaslahatan.Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Puncak Tri Ukhuwah, Menguji Ukhuwah Bashariyah KH Ahmad Shiddiq di Tengah Krisis Empati Indonesia.
Menyikapi Perdebatan Tuan Rumah Muktamar NU Ke- 35 Seri (II)
Gelombang Dukungan Menguat, NTB Makin Dekat Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke- 35
IPNU NTB Teguhkan Komitmen Dukungan NTB Tuan Rumah Muktamar NU Ke – 35
Sinergi LKNU NTB, HIMA Farmasi UNIQHBA, dan IAI Loteng Layani Kesehatan Warga
Munas-Konbes Berakhir, KH Nurul Huda Djazuli Serukan Persatuan dan Penguatan Pesantren
Jelang Muktamar Ke-35, Dukungan Untuk NTB Menguat di Munas- Konbes.
PWNU NTB Bulat Usulkan TGH. Turmudzi Badaruddin Sebagai Anggota AHWA PBNU.

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 11:30

Puncak Tri Ukhuwah, Menguji Ukhuwah Bashariyah KH Ahmad Shiddiq di Tengah Krisis Empati Indonesia.

Senin, 6 Juli 2026 - 09:01

Menyikapi Perdebatan Tuan Rumah Muktamar NU Ke- 35 Seri (II)

Sabtu, 4 Juli 2026 - 02:57

Menyikapi Perdebatan Tuan Rumah Muktamar NU ke- 35 (Muktamar Bukan Arena Rebutan Prestise, Melainkan Ikhtiar Menjaga Marwah Jam’iyyah)

Kamis, 25 Juni 2026 - 07:16

Gelombang Dukungan Menguat, NTB Makin Dekat Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke- 35

Rabu, 24 Juni 2026 - 05:29

Sinergi LKNU NTB, HIMA Farmasi UNIQHBA, dan IAI Loteng Layani Kesehatan Warga

Berita Terbaru

Uncategorized

PONPES QAMARUL HUDA BAGU SIAP MENJADI TUAN RUMAH MUKTAMAR NU 35

Minggu, 5 Jul 2026 - 04:46