Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Nusa Tenggara Barat menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB dalam memperjuangkan Nusa Tenggara Barat sebagai tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35.
Dukungan tersebut ditunjukkan melalui keterlibatan langsung kader-kader IPNU NTB selama pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, pada 20–23 Juni 2026.
Sejak forum dibuka hingga ditutup, rombongan PW IPNU NTB berada dalam barisan yang sama dengan PWNU NTB. Mereka ikut mengawal berbagai agenda konsolidasi, membangun komunikasi dengan sejumlah elemen Nahdlatul Ulama, sekaligus memperkuat dukungan terhadap pencalonan NTB sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar mendatang.
Ketua PW IPNU NTB, Muhammad Iskandar Haris, mengatakan bahwa dukungan terhadap ikhtiar PWNU NTB bukan sekadar bentuk solidaritas organisasi, melainkan bagian dari tanggung jawab generasi muda Nahdliyin untuk memastikan agenda strategis organisasi mendapat dukungan lintas elemen.Menurutnya, NTB memiliki modal yang kuat untuk menjadi tuan rumah forum tertinggi Nahdlatul Ulama tersebut.
Selain didukung infrastruktur yang memadai, daerah ini juga dinilai memiliki kesiapan sosial dan kelembagaan yang kuat.“NTB sangat layak menjadi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama. Dari sisi aksesibilitas, kita memiliki bandara internasional, jaringan transportasi yang memadai, serta kemampuan mobilisasi peserta dalam jumlah besar. Infrastruktur penunjang juga tersedia dan siap digunakan,” kata Iskandar di sela-sela pelaksanaan Munas dan Konbes NU di Kediri.
Ia menjelaskan, kesiapan NTB tidak hanya diukur dari ketersediaan sarana fisik. Dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dunia usaha hingga keluarga besar Nahdlatul Ulama di NTB, menjadi faktor penting yang memperkuat posisi daerah tersebut.“Yang paling penting adalah adanya kesamaan semangat dari seluruh unsur. PWNU, badan otonom, lembaga, pesantren, kader muda hingga warga Nahdliyin di akar rumput bergerak dalam satu tujuan yang sama,” ujarnya.Menurut Iskandar, kekompakan itu menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam penyelenggaraan kegiatan berskala nasional seperti Muktamar.





