Satu Abad NU: Merawat Teradisi, Menjaga Indonesia.

Penulis: H. Lalu Suprial Wahid (Ketua Lembaga Perekonomian PWNU NTB)

Satu abad bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah jejak panjang yang dilalui dengan kesabaran, doa, dan keringat. Nahdlatul Ulama (NU), yang kini genap berusia satu abad, bukan hanya organisasi keagamaan, melainkan rumah besar bagi jutaan harapan umat Islam Indonesia. 
Di usia ini, NU tidak berdiri sebagai monumen masa lalu, tetapi sebagai pohon tua yang akarnya menghujam bumi, sementara rantingnya terus tumbuh mengikuti zaman.

Bagi Nusa Tenggara Barat (NTB), NU adalah denyut nadi yang mengalir di tengah masyarakat. Sejak awal, NU hadir bukan sebagai kekuatan yang memaksakan kebenaran, melainkan sebagai peneduh yang menyejukkan. Islam yang diperjuangkan NU adalah Islam yang ramah, yang menautkan langit dan bumi, yang memeluk tradisi tanpa menutup mata terhadap modernitas. Di tengah keberagaman etnis, budaya, dan agama di NTB, NU memainkan peran penting sebagai penjaga harmoni sosial.Dalam bidang pendidikan, NU telah menanam benih jauh sebelum negara sepenuhnya hadir. Pesantren, madrasah, sekolah, hingga perguruan tinggi yang dikelola NU bukan hanya ruang transfer ilmu, tetapi kawah candradimuka pembentukan karakter. 

Di NTB, lembaga-lembaga pendidikan NU melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Pendidikan ala NU mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak adalah senjata tanpa kendali.Pada ranah sosial, NU menjelma menjadi tangan yang terulur bagi mereka yang terpinggirkan. Dari pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi umat, hingga kepedulian terhadap lingkungan, NU hadir sebagai mitra masyarakat, bukan penonton. 

Di desa-desa dan pelosok NTB, NU sering kali menjadi yang pertama datang ketika negara belum sempat menjangkau. Inilah wajah NU yang bekerja dalam diam, tetapi dampaknya nyata.
Soal politik, NU kerap disalahpahami. NU bukan partai politik, tetapi warganya adalah warga negara yang sadar politik. Sejarah mencatat banyak kader NU yang dipercaya mengemban amanah di pemerintahan, baik di daerah maupun nasional. 

Namun, yang lebih penting dari posisi adalah nilai. NU secara konsisten berdiri di garis tengah, menjaga demokrasi tetap berakar pada etika, dan kekuasaan tetap berpijak pada kemaslahatan. Politik bagi NU adalah ikhtiar, bukan tujuan.Tentu, perjalanan panjang ini tidak steril dari kritik. Isu radikalisme, intoleransi, hingga korupsi menjadi tantangan serius yang juga menyentuh ruang-ruang NU. Namun keistimewaan NU terletak pada kemampuannya bercermin. 


NU tidak alergi terhadap kritik. Ia belajar, berbenah, dan menegaskan kembali jati dirinya sebagai penjaga Islam wasathiyah Islam yang adil, seimbang, dan berperikemanusiaan.
Di tingkat nasional, peran NU bahkan lebih kentara. NU menjadi jangkar kebangsaan di saat ombak ekstremisme dan politik identitas mengancam persatuan. Ketika sebagian kelompok sibuk memurnikan agama dengan cara menyingkirkan yang berbeda, NU justru mengajarkan bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari iman. Di sinilah NU menemukan relevansinya: menjaga agama agar tetap sakral, dan menjaga negara agar tetap utuh.

Memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada tantangan baru. Digitalisasi, perubahan pola dakwah, disrupsi ekonomi, hingga krisis kepercayaan publik menuntut NU untuk lebih adaptif tanpa kehilangan ruh. Evaluasi dan refleksi menjadi keharusan. Apa yang sudah dicapai patut disyukuri, tetapi apa yang belum harus diakui dengan jujur. NU perlu terus memperkuat tata kelola organisasi, memperdalam kaderisasi, dan memastikan nilai-nilai ke-NU-an tetap hidup di generasi muda.
Kabar baiknya, kedewasaan NU semakin tampak.

Persatuan PBNU hari ini menunjukkan kematangan dalam mengelola perbedaan. Konflik tidak lagi menjadi bara yang membakar, melainkan percikan yang segera dipadamkan dengan musyawarah. Siapa pun yang mencoba memecah belah NU, sejatinya sedang melawan arus sejarah dan sejarah jarang berpihak pada perpecahan. Satu abad NU adalah bukti bahwa tradisi dan kemajuan tidak harus saling meniadakan. NU mengajarkan kita bahwa menjaga warisan ulama bukan berarti menolak perubahan, dan merangkul masa depan tidak harus mencabut akar. Dari NTB hingga seluruh penjuru Indonesia, NU terus menyalakan api tradisi sambil merawat rumah besar bernama Indonesia.

Selamat satu abad Nahdlatul Ulama. Perjalanan ini belum selesai. Justru di usia inilah NU diuji: apakah mampu terus menjadi penunjuk arah, bukan sekadar penanda sejarah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *